DIY – Cara Memasang Lampu Sorot 3 Kabel
Daftar isi (1 bagian)
Lampu Sorot 3 Kabel
Salah satu lampu yang digunakan untuk menerangi taman atau halaman rumah adalah lampu sorot LED.
Lampu sorot untuk luar ruangan umumnya memiliki rating tahan air IP65 atau IP66 (cek label pada bodi atau kemasan), terang, dan hemat listrik karena menggunakan teknologi LED; pemasangannya pun relatif mudah.
Untuk pasang lampu sorot atau lampu tembak untuk taman atau rumah sebenarnya cukup mudah, hanya tinggal menyambung kabelnya ke jaringan listrik rumah dan lampu sorot dapat menyala.
Namun mungkin diantara kalian ada beberapa yang masih cukup kebingungan bagaimana cara menyambungnya.
Maka dari itu kita akan bahas bagaimana cara menyambung atau memasang lampu sorot di rumah.
Peringatan keselamatan: pekerjaan ini menyentuh listrik PLN 220–230 V yang bisa berakibat fatal. Matikan (turunkan) MCB sebelum menyambung kabel, pastikan dengan test pen bahwa kabel sudah tidak bertegangan, dan panggil teknisi listrik bila ragu.
Sebelum kita praktek untuk memasang lampu sorotnya, ada baiknya mengetahui skema posisi dari lampu sorot dan komponen lainnya terlebih dahulu.

Dari skema di atas, bisa dilihat untuk menyambung lampu sorot sebenarnya hanya tinggal menyambungnya dengan jaringan listrik di rumah (jalur fasa/live dan netral) serta jalur ground (arde).
Lampu sorot berbodi logam umumnya dilengkapi kabel ground (arde) berwarna hijau-kuning. Kabel ini wajib disambungkan ke jalur ground instalasi rumah, karena bodi lampu luar ruangan mudah basah dan tersentuh orang.
Untuk menyalakan dan mematikan lampu sorot, pasang saklar di jalur fasa (live), bukan di netral. Dengan saklar di jalur fasa, lampu benar-benar tidak bertegangan saat saklar OFF sehingga aman saat diperiksa atau diganti.
Note: untuk menentukan jalur live kalian dapat menggunakan test pen – jalur live akan menyala sedangkan jalur netral tidak.


Lingkaran berwarna kuning menandai terminal ground, yang harus tersambung ke elektrode pentanahan (arde) rumah.
Setelah mengetahui jalur live, netral dan ground di jaringan listrik rumah kalian, maka selanjutnya adalah menentukan jalur kabel pada lampu sorot.
Hal pertama yang perlu diketahui adalah spesifikasi input dari lampu sorot kalian.
Informasi ini dapat dilihat di dus kemasan atau stiker pada lampu sorot bagian belakang.
Sebagai contoh, lampu sorot pada gambar di bawah menuliskan spesifikasi input AC 165–265 V 50/60 Hz, sehingga lampu sorot ini dapat dipasang pada jaringan listrik rumah di Indonesia yang bertegangan AC 220–230 V 50 Hz (tegangan nominal menurut SNI adalah 230 V).


Gambar diatas merupakan gambar lampu sorot 10W dengan spesifikasi input AC 165-265V 50/60Hz dan dilengkapi dengan 3 kabel.
Cara Menentukan Jalur Kabel Lampu Sorot 3 Kabel
Lampu sorot yang beredar di pasaran biasanya sudah dilengkapi dengan kabel.
Ada yang menggunakan 2 kabel dan 3 kabel.
Untuk yang menggunakan 2 kabel, kalian tinggal menyambungnya ke jalur live dan netral, sedangkan yang 3 kabel, kalian harus menentukan mana jalur live, netral dan ground.
Ada 2 cara untuk menentukannya, yaitu:
Dengan warna kabel
Pada lampu yang mengikuti standar, warna kabel yang digunakan adalah coklat, biru, dan hijau strip kuning.
Sesuai PUIL 2011 (mengacu IEC 60446), kabel coklat adalah fasa (L/live), kabel biru adalah netral (N), dan kabel hijau strip kuning adalah ground/arde (PE). Sambungkan coklat ke fasa, biru ke netral, dan hijau-kuning ke ground instalasi.
Namun jika warna yang digunakan tidak standard atau kurang yakin, kalian dapat menggunakan cara kedua.
Dengan multimeter
Menentukan jalur grounding dengan menggunakan multimeter.
Jika jalur grounding sudah dapat ditentukan, maka sisa jalurnya adalah live dan netral.
Multimeter di-set ke pengukuran resistansi atau kontinuitas. Lakukan semua pengukuran ini saat lampu belum tersambung ke listrik.
Langkah pertama



Jalur grounding dapat ditentukan dengan mengukur kontinuitas bodi lampu ke setiap kabel.
Hubungkan salah satu probe pada multimeter ke bodi dari lampu sorot (cari bagian yang tidak dilapisi cat atau coating) dan probe yang satunya ke masing-masing kabel.
Jika pengukuran menunjukkan 0 ohm atau mendekati 0 ohm, kabel tersebut adalah ground (tersambung ke bodi). Namun jika seperti gambar di atas setiap kabel menunjukkan 0L (open/over limit, artinya hambatannya di luar rentang ukur alias tidak tersambung), kemungkinan probe menempel pada bagian yang bercat atau kabel ground lampu tidak tersambung langsung ke titik bodi yang diukur. Pada lampu sorot berbodi logam, bodi seharusnya tersambung ke kabel ground; bila tetap tidak ada kabel yang tersambung ke bodi, tanyakan ke penjual atau teknisi. Untuk memastikan kabel mana yang ground, lakukan langkah berikut:
Langkah kedua



Cara lainnya untuk menentukan jalur grounding adalah mengukur kontinuitas setiap kabelnya.
Sebagai contoh, gambar di atas memperlihatkan pada saat mengukur kontinuitas kabel biru dan coklat, pengukuran menghasilkan angka 8,79 Mohm.
Hal ini menandakan bahwa kabel ini terhubung ke komponen yang berarti kedua kabel ini adalah jalur live dan netral.
Angka yang terbaca antara kabel fasa dan netral bergantung pada rangkaian driver lampu; pada contoh ini berada di orde megaohm. Yang pasti, angka 0 ohm atau sangat mendekati 0 ohm menandakan ada hubung singkat.
Jika angka yang dihasilkan 0 ohm, kemungkinan besar komponen di dalam lampu sorot rusak karena jalur fasa dan netralnya terhubung singkat (short). Jangan sambungkan lampu seperti ini ke listrik.
Sedangkan dua pengukuran dari kabel hijau strip kuning ke kabel biru dan coklat menghasilkan pengukuran 0L, maka dapat dipastikan bahwa kabel hijau strip kuning adalah jalur grounding karena tidak terhubung secara langsung ke jalur live dan netral.
Setelah mengetahui jalur listrik dari lampu sorot, maka selanjutnya adalah menghubungkan jalur tersebut ke jaringan listrik rumah.
Caranya adalah dengan menghubungkan kabel tersebut dengan steker listrik atau langsung ke terminal listrik di rumah sesuai dengan jalurnya.
Sebagai catatan, bila instalasi rumah belum memiliki jalur grounding, lampu memang tetap menyala tanpa kabel ground, tetapi tidak aman: jika terjadi kebocoran, bodi logam lampu bisa bertegangan dan menyetrum orang yang menyentuhnya, apalagi lampu luar ruangan yang basah terkena hujan. Jangan memotong kabel ground atau sekadar menutup ujungnya dengan solatip lalu dibiarkan. Mintalah teknisi listrik membuatkan jalur pentanahan sesuai PUIL 2011 sebelum lampu berbodi logam dipasang di tempat yang mudah tersentuh.
Grounding berfungsi mengamankan orang dan peralatan saat terjadi kebocoran arus ke bodi alat, misalnya karena:
- Isolasi kabel yang rusak atau kurang baik
- Komponen di dalam alat bocor atau terhubung singkat (konsleting) ke bodi
- Penumpukan listrik statis
Dengan adanya jalur grounding, arus bocor dialirkan ke tanah (bumi) sehingga bodi alat tidak bertegangan berbahaya, dan bila instalasi dilengkapi pengaman arus bocor (ELCB/RCD), listrik akan diputus otomatis. Penjelasan lengkap warna dan fungsi kabel ground ada di artikel Cara Membedakan Kabel Arde, Netral, & Fasa.
Jangan menguji ada-tidaknya grounding dengan memegang bodi peralatan yang sedang menyala, karena berbahaya.
Bila test pen menyala saat ditempelkan ke bodi logam alat, atau bodi terasa menyetrum, itu tanda ada kebocoran dan jalur grounding tidak ada atau tidak bekerja dengan baik. Segera matikan alat dan MCB, lalu minta teknisi memeriksa. Sebaliknya, test pen yang tidak menyala belum membuktikan grounding sudah baik; pemeriksaan grounding yang benar dilakukan teknisi dengan alat ukur tahanan pentanahan (earth tester).
Untuk menghubungkan lampu sorot dengan menggunakan steker listrik dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar di atas menunjukkan cara menghubungkan kabel dengan steker listrik.
Jalur fasa dan netral ditandai dengan lingkaran warna biru dan coklat, sedangkan jalur grounding ditandai lingkaran warna kuning. Kabel hijau-kuning wajib masuk ke terminal ground steker, dan steker dicolokkan ke stop kontak yang memiliki ground.
Hal yang perlu diperhatikan adalah:
- Sebelum pemasangan, matikan MCB terlebih dahulu dan pastikan dengan test pen bahwa kabel tidak bertegangan; listrik rumah 220–230 V AC berbahaya dan bisa berakibat fatal. Bila ragu, serahkan ke teknisi listrik.
- Pastikan setiap sambungan tersambung dan terisolasi dengan baik, terutama jika dipasang di luar ruangan, pastikan sambungan tahan air. Kalian dapat menggunakan skun dengan isolasi, shrink tube, atau selang pada sambungannya.
- Pastikan juga jalur live dan netral tidak tersambung secara langsung karena dapat menimbulkan arus pendek (konsleting atau short circuit).
Demikian penjelasan mengenai cara memasang lampu sorot dengan 3 kabel sendiri. Selamat mencoba ya!
Semoga bisa membantu dan menambah wawasan kalian!
Butuh penjelasan lebih rinci atau mencari lampu sorot LED? Hubungi admin S-Gala lewat WhatsApp.





