Stop Kontak di Jepang
Topik: Stop kontak & colokan
Daftar isi (1 bagian)
Jepang merupakan salah satu destinasi wisata favorit warga Indonesia.
Selain karena kebersihannya, keindahan negaranya, budaya yang sangat menarik, wisata alam dan wisata belanja yang keren, Jepang juga memiliki banyak kelebihan yang mengundang turis dari berbagai negara untuk singgah ke sana.
Nah, salah satu hal yang penting untuk diketahui sebelum kita wisata ke Jepang adalah perbedaan stopkontak di Jepang dengan stop kontak di Indonesia.
Apa bedanya?
Yuk simak artikelnya!
Listrik dan Stop Kontak di Jepang
Ternyata, model varian stopkontak atau socket di Jepang itu berbeda dengan Indonesia lho!
Untuk itu kalian perlu mempersiapkan peralatan-peralatan khusus seperti adapter yang bisa menyesuaikan colokan dari barang-barang elektronik yang kalian bawa ke Jepang.
Sebenarnya memang cukup sediakan satu international adapter dan kalian pasti bisa ngecas atau colokin peralatan elektronik kalian diberbagai negara.
Tapi ga ada salahnya kalian baca dulu informasi tentang stopkontak di Jepang ini supaya makin paham dan gak sampe salah.
Karena selain bentuk colokannya yang beda, ternyata voltase dan frekuensinya juga ada perbedaan lho!
Model Stop Kontak di Jepang itu Seperti Apa?
Di Jepang ada dua model stop kontak yang umum digunakan, yaitu menggunakan jenis stop kontak tipe A dan B.
Stop kontak tipe A memiliki dua pin datar yang tersusun secara paralel. Sedangkan stop kontak tipe B memiliki dua pin datar yang tersusun secara paralel dan juga dilengkapi oleh pin grounding.
Untuk lebih jelasnya, kalian bisa lihat pada ilustrasi gambar di bawah ini.

Perbedaan Tegangan Listrik di Jepang dan Indonesia
Untuk tegangannya sendiri, Jepang memakai listrik 100 Volt. Frekuensinya berbeda per wilayah: 50 Hz di Jepang timur (termasuk Tokyo) dan 60 Hz di Jepang barat (termasuk Osaka).
Berbeda dengan Indonesia yang memakai tegangan 220–230 V (nominal SNI 230 V) dengan frekuensi 50 Hz. Stop kontak rumah di Indonesia umumnya berpin bulat (tipe C/F), sehingga steker dari Indonesia tidak bisa langsung dicolok ke stop kontak Jepang tanpa adaptor.
Memang di seluruh dunia penyediaan tegangan listrik di tiap negara bisa bervariasi / berbeda-beda mulai dari 100V – 240V.
Ketika kita berpindah negara dengan membawa berbagai peralatan elektronik yang ternyata standar spesifikasi tegangannya berbeda, hal ini bisa menyebabkan kerusakan terutama pada alat elektronik yang kita sambungkan ke sumber listrik tersebut.

Perbedaan frekuensi juga bisa berpengaruh pada performa peralatan elektronik lho! Contoh sederhananya, pada jam digital.
Jam yang menghitung waktu dari frekuensi listrik dan dirancang untuk 50 Hz akan berjalan sekitar 20% lebih cepat (sekitar 12 menit per jam) bila dicolok ke listrik 60 Hz di Jepang barat. Jam yang memakai kristal kuarsa tidak terpengaruh.
Perlu diingat, voltage converter atau trafo step-up (100 V ke 220 V) hanya mengubah tegangan, tidak mengubah frekuensi. Alat yang peka frekuensi, seperti jam listrik tadi atau sebagian alat bermotor, tetap bisa bekerja kurang tepat walaupun tegangannya sudah sesuai.
Biasanya kalau kalian membeli voltage converter yang bagus, alat tersebut sudah dilengkapi dengan adapter stop kontak universal jadi kalian gak usah repot pakai 2 alat.
Oh iya, perlu kalian ingat untuk selalu mengecek maximum power rating (AMPS atau WATTS) pada konverter / transformer yang kalian beli ya! Pastikan juga semua peralatan elektronik yang akan kalian sambungkan ke converter/transformer tersebut tidak melebihi batas AMPS/WATTS -nya.
Dual Voltage VS Single Voltage
Apakah kalian pernah mendengar istilah dual voltage dan single voltage?
Saat ini ada banyak peralatan elektronik terutama dari merk-merk besar yang produknya tersebar di seluruh dunia dilengkapi dengan fitur dual voltage.
Apa maksudnya dual voltage?

Kalau kalian melihat spesifikasi dari sebuah alat elektronik dan tertulis : “INPUT 100-240V”, artinya alat elektronik tersebut bisa bekerja dengan baik dengan sumber listrik bertegangan 100V sampai dengan 240V.
Itu adalah teknologi dual voltage.
Artinya kalian tidak perlu repot-repot lagi membawa voltage adapter saat ke Jepang karena bisa langsung colok saja asal bentuk stop kontak dan colokannya sesuai.
Alat seperti ini aman dipakai di Jepang maupun di Indonesia; cukup gunakan adaptor colokan bila bentuk stekernya berbeda.
Lalu apa itu single voltage?
Nah, setelah tau tentang dual voltage tentunya kalian langsung bisa paham dengan istilah single voltage ini.
Kalau di spesifikasi alat elektronik kalian hanya tertulis : INPUT 220V, artinya alat elektronik tersebut hanya memiliki fitur single voltage dan hanya akan beroperasi dengan baik di tegangan sumber 220V.
Alat 220 V yang dicolok ke listrik 100 V biasanya hanya bekerja lemah atau tidak menyala, dan alat bermotor bisa cepat panas. Yang justru berbahaya adalah kebalikannya: alat elektronik khusus 100 V dari Jepang, misalnya rice cooker atau pengering rambut oleh-oleh, yang dicolok langsung ke listrik 220 V di Indonesia bisa langsung rusak, panas, bahkan terbakar. Gunakan trafo step-down 220 V ke 100 V yang dayanya mencukupi.

Jadi apa yang harus dilakukan? Gunakan voltage converter / transformer yang sesuai dengan kebutuhan ya!
Sekian informasi kali ini tentang stop kontak di Jepang. Ada pertanyaan soal adaptor dan alat listrik lain? Tanyakan ke admin S-Gala lewat WhatsApp.
Ingin punya penghasilan tambahan dari jualan lampu? Mulainya bisa dengan modal kecil. Di S-Gala, minimal belanja Rp50 ribu, harga reseller mulai total belanja lampu LED Rp300 ribu, dan harga grosir mulai Rp1 juta. Harga jual ke pembeli Anda, Anda sendiri yang menentukan. Baca cara mulai jualan lampu atau chat admin di 0812-2276-8892.



