Apa yang dimaksud dengan Lampu LED 220 V?
Topik: Volt, watt & ampere
Daftar isi (1 bagian)
Pengertian lampu LED 220 V
Lampu Light Emitting Diode atau yang biasa kita kenal dengan singkatan LED merupakan teknologi terkini dalam bidang pencahayaan yang kian diminati pasaran.
Dibandingkan dengan lampu-lampu pendahulunya (lampu pijar, lampu fluorescent, lampu halogen), lampu LED memiliki nilai efisiensi yang tinggi.
Lampu LED banyak diminati oleh masyarakat karena memiliki banyak kelebihan, antara lain :
- Hemat energi (memiliki daya yang rendah)
- Hemat biaya listrik
- Cahaya yang terang
- Tidak mudah panas
- Memiliki umur pemakaian yang panjang
- Ramah lingkungan
- Memiliki banyak pilihan warna
- Kualitas pencahayaan yang dihasilkan lebih baik
- dan masih banyak lagi kelebihan lain
Lampu LED memiliki berbagai macam pilihan tingkat kecerahan, model, dan warna sehingga cocok dijadikan lampu buat kamar tidur atau kamar mandi, ruang tamu, perkantoran, gudang, dan berbagai ruangan lainnya.
Kebanyakan lampu LED yang sering dipakai untuk ruangan adalah yang berwarna putih. Namun jika melihat ke spektrum warna warni, warna putih itu sebenarnya tidak ada dalam spektrum loh!
Lalu bagaimana lampu LED menghasilkan warna putih jika tidak masuk dalam spektrum warna-warni?
Lampu LED putih umumnya memakai chip LED biru yang dilapisi fosfor kuning; campuran cahaya biru dan kuning itu terlihat putih oleh mata. Komposisi fosfornya menentukan suhu warna (color temperature) yang dinyatakan dalam Kelvin (K): makin kecil angkanya makin kekuningan, makin besar makin kebiruan.

Pada umumnya LED light terbagi menjadi 3 suhu warna, yaitu :
- Warm white (sekitar 2.700 – 3.000 K), cahaya kekuningan
- Cool white atau natural white (sekitar 4.000 – 4.500 K)
- Daylight atau cool daylight (sekitar 5.000 – 6.500 K), cahaya putih kebiruan
Untuk warna lampu LED sendiri sebenarnya tersedia dalam beberapa warna.
Apalagi dengan perkembangan inovasi di bidang pencahayaan, semakin banyak lampu-lampu unik yang bermunculan di pasar.
Contohnya adalah lampu emergency LED. Lampu emergency merupakan lampu khusus untuk kondisi saat tidak ada aliran listrik di rumah.
Lampu emergency tetap menyala (selama saklar dalam posisi ON) walau tidak ada listrik karena di dalam lampu sudah diberi baterai yang dapat menampung listrik yang sewaktu-waktu akan dipakai jika aliran listrik di rumah mati atau terjadi pemadaman listrik sementara dari PLN.
Saat lampu dinyalakan dengan voltase listrik dari PLN yang tersedia, maka lampu akan mencharge baterai yang ada pada lampu.
Contoh lainnya adalah lampu dengan remote control yang dapat kita atur warnanya.

Jadi dalam satu buah bohlam lampu terdapat banyak warna yang dapat kita atur dan ganti sendiri. Unik bukan?
Lampu jenis ini cocok sekali untuk dipakai dalam kamar supaya kamarmu terlihat lebih estetik.
Lampu dengan banyak warna ini biasa disebut smart bulb dengan inovasi smart color.
Warna pada lampu smart bulb ini dapat diatur juga melalui handphone kalian.
Lampu LED di rumah dapat dinyalakan dengan colokan lampu LED (biasa berbentuk fitting lampu colok beserta saklar) atau dipasang pada fitting lampu yang sudah tersedia di rumah.

Untuk lampu tidur atau lampu buat kamar tidur, dapat menggunakan colokan lampu LED dengan lampu yang memiliki daya rendah (cahaya redup).
Lalu, apa yang dimaksud dengan Lampu LED dengan tegangan 220 V?
Lampu LED 220 V adalah lampu LED yang dirancang untuk langsung dipasang pada listrik rumah, yaitu tegangan bolak-balik (AC) dari PLN. Chip LED sendiri bekerja dengan tegangan DC kecil (sekitar 3 V per chip), sehingga di dalam lampu terdapat driver yang mengubah listrik AC PLN menjadi arus DC yang sesuai untuk chip LED.
Tegangan nominal listrik rumah di Indonesia kini 230 V (standar lama 220 V), dengan toleransi sekitar +5% dan −10%. Karena itu, lampu dan peralatan yang dijual di Indonesia umumnya bertuliskan 220–240 V atau rentang yang lebih lebar.
Lalu apa yang terjadi jika kita memakai produk yang dirancang untuk tegangan di bawah 220 V, misalnya lampu 12 V atau peralatan 110 V?
Produk tersebut bisa langsung rusak, bahkan terbakar, karena menerima tegangan jauh lebih besar dari kapasitasnya. Peralatan seperti itu harus dipakai dengan adaptor atau trafo penurun tegangan yang sesuai.
Oleh sebab itu, jika ingin membeli lampu untuk fitting rumah, pastikan tegangan yang tertulis pada lampu sesuai listrik PLN (220–240 V).
Atau kalian dapat membeli produk elektronik atau lampu LED dengan supply yang berjenis SMPS (switching mode power supply).
Terkadang, tegangan pada rumah juga mengalami overvoltage dan undervoltage.
Dengan membeli produk elektronik atau lampu dengan supply SMPS ini, produk elektronik kita akan tetap bekerja stabil selama tegangan PLN masih berada dalam rentang tegangan masukan yang tertulis pada produk (misalnya 100–240 V).
Tarif listrik ditetapkan Kementerian ESDM dan ditagihkan PLN berdasarkan pemakaian kWh, sehingga lampu yang lebih hemat watt langsung mengurangi tagihan.

Rangkaian lampu LED 220 V tanpa trafo: cara kerja dan bahayanya
Lampu LED dapat dinyalakan dari tegangan 220–230 V AC tanpa trafo, dan prinsip ini dipakai pada banyak bohlam LED murah. Arus dibatasi oleh komponen seri, umumnya kapasitor penurun tegangan (kapasitor dropper), lalu disearahkan dengan dioda.
Peringatan keselamatan: rangkaian tanpa trafo tidak terisolasi dari listrik PLN. Seluruh komponen, termasuk chip LED dan kabelnya, bertegangan berbahaya selama tersambung, dan kapasitornya bisa tetap menyimpan muatan setelah dicabut. Rangkaian seperti ini bukan untuk percobaan pemula: jangan merakit, menyentuh, atau mengukurnya dalam keadaan tersambung ke listrik, kosongkan kapasitor sebelum disentuh, dan pakai lampu LED jadi yang sudah ber-SNI untuk penerangan rumah.

Pada gambar rangkaian di atas, fungsi tiap komponen adalah sebagai berikut:
- C1 dan C2 (470 nF/275 V AC, dipasang paralel): kapasitor penurun tegangan yang membatasi arus ke LED.
- R1 (1 MΩ): mengosongkan muatan C1 dan C2 setelah rangkaian dicabut dari listrik.
- Sekring 1 A: memutus rangkaian bila terjadi hubung singkat.
- Br1 (dioda jembatan 1 A): penyearah yang mengubah arus bolak-balik (AC) menjadi arus searah (DC).
- R2 (10 ohm): membatasi lonjakan arus saat rangkaian pertama kali dinyalakan.
- C3 (elektrolit 10 µF/400 V): meratakan tegangan DC agar LED tidak berkedip.
- LED 1 sampai LED 50: chip LED yang dirangkai seri, masing-masing sekitar 3,2 V.
Rangkaian sederhana ini tidak memiliki pengatur arus maupun pengaman lonjakan tegangan, sehingga umur LED-nya lebih pendek dibanding lampu LED yang memakai IC driver.
Sekian informasi mengenai lampu LED dengan tegangan 220 V, semoga bermanfaat ya!
Jangan lupa untuk membaca artikel bermanfaat lainnya di S-gala.com!
Cari lampu LED premium yang berkualitas dan bergaransi? Lihat pilihan dan harga terbarunya di halaman produk.
Atau segera hubungi CS kami untuk penjelasan lebih lanjut melalui tautan berikut >> chat admin WhatsApp





